Minggu, 02 September 2012

Kapten-Kapten Arsenal Yang 'Berkhianat'


Tak diragukan lagi, Arsenal merupakan tim besar dengan sederet prestasi selama hampir dua dekade ini.

Sejak mendatangkan Arsene Wenger pada tahun 1996. Arsenal mulai berbicara banyak melalui torehan torehan prestasi dan gelimang trofi. Prestasi tersebut sekaligus merusak hegemoni Manchester United di Liga Premier Inggris. Meskipun begitu, Arsenal harus melupakan masa keemasannya sejak terakhir meraih trofi Piala FA tahun 2005.
Gagal menambah koleksi gelar, satu per satu pemain berlabel bintang bahkan kapten tim pun mulai merasa bosan dan haus tantangan. Pilihan pun diambil, lebih baik keluar dari pada bertahan tanpa koleksi gelar. 


Sejak menggantikan Tony Adams, prestasi Patrick Viera bersama Arsenal sebagai kapten tidaklah bisa dibilang buruk.

Tercatat Viera meraih gelar Liga Premier musim 2003-2004, Piala FA (2002-2003, 2004-2005) serta satu gelar Community Shield pada tahun 2004.

Meski sukses, Viera tetap memilih jalan keluar dan bergabung bersama raksasa Italia, Juventus pada 2005. Dan berhasil memenangkan scudetto pada musim yang sama.


Diboyong Wenger dari Juventus pada tahun 1999, Thierry Henry tumbuh menjadi salah satu penyerang kelas dunia di Arsenal.

Selepas kepergian Viera, ban kapten identik dengan pemain berkepala plontos ini. Dengan ban kapten di tangan, Henry belum mampu sekalipun merasakan nikmatnya meraih gelar. Prestasi terbaiknya adalah membawa The Gunners menjadi finalis Liga Champions musim 2005-2006.

Hingga akhirnya Henry menerima tawaran dari Barcelona pada tahun 2007. Sejak kepindahannya itu, tujuh gelar ia raih bersama Blaugrana.


Didatangkan Wenger dari Chelsea pada musim 2006-2007, Gallas mendapatkan kepercayaan dari Wenger menjadi kapten menggantikan Thierry Henry.

Sayang kontroversi mengiringi langkahnya semenjak menjabat ban kapten Arsenal. Hingga akhirnya, Wenger terpaksa melepas jabatan tersebut dan memberikannya kepada anak muda Spanyol, Cesc Fabregas.

Setelah tak menjabat kapten, Gallas tetap bertahan di Arsenal. Namun semusim kemudian Gallas memilih hengkang ke Tottenham Hotspur pada musim 2010-2011.


Mengambil alih ban kapten dari seniornya, William Gallas, Cesc Fabregas memulai debutnya sebagai kapten pada 24 November 2008.

Tiga musim menjabat kapten tim, publik Emirates pun jatuh hati padanya. Tak jarang karena alasan fans, Cesc memilih bertahan bersama The Gunners.

Tak kunjung memberikan gelar bergengsi, Cesc Fabregas pun akhirnya memilih hengkang dari Arsenal. Tujuannya adalah klub masa kecilnya, Barcelona.

Selepas dari Arsenal, Cesc Fabregas sukses meraih gelar Copa del Rey, Supercopa Spanyol, Piala Super UEFA, dan Piala Dunia Antar Klub bersama Barcelona.


eban untuk segera mengakhiri puasa gelar pun disandang Robin van Persie, kapten Arsenal pasca kepergian Cesc Fabregas.

Sejak bergabung pada 2004, RvP memang telah menunjukkan bakatnya sebagai calon pangeran baru di Emirates.

Namun RvP tampaknya tak berjodoh untuk mengakhiri karir sebagai pangeran di Arsenal. Musim panas ini, The Gunners harus rela melihat RvP bermain untuk rivalnya, Manchester United dengan nilai transfer 22 juta pound.

Selama delapan musim membela panji The Gunners, Van Persie telah bermain 278 kali. RVP menjadi starter 211 kali dan 67 kali menjadi pemain pengganti di pertandingan kompetitif Arsenal. Jika dirata-rata, Van Persie bermain 26 kali dalam semusim.

Menarik dinanti kiprah RvP dengan tim barunya tersebut. Apakah akan menghapus kerinduan RvP akan sebuah gelar yang tak ia dapatkan dari Arsenal?

ARTIKEL TERKAIT :

0 komentar:

Posting Komentar